Selat Muria merupakan selat yang pernah ada dan menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Muria. Selat ini dulunya merupakan daerah perdagangan yang ramai, dengan kota-kota perdagangan seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana. Pada sekitar tahun 1657, endapan sungai yang bermuara di selat ini terbawa ke laut sehingga selat ini semakin dangkal dan menghilang, sehingga Pulau Muria menyatu dengan Pulau Jawa.[1]
Pada saat Selat Muria terdapat sebuah pulau yang bernama Pulau Muria. Bentang alam Pulau Muria sendiri terdiri dari Gunung Muria yang terletak di bagian tengah. Sedangkan di bagian selatan terdapat perbukitan Patiayam yang terbentuk dari aktivitas vulkanik Gunung Muria di masa lampau (beberapa contohnya adalah Maar Bambang, Maar Gunungrowo, dan Maar Gembong).[3]
Catatan paleontologi menyatakan bahwa kawasan perbukitan Patiayam memiliki berbagai fosil kerbau purba (Bos bubalis paleokarbau), banteng (Bos bibos paleosondaicus, keluarga rusa/Cervidae (Cervus zwaani), keluarga babi hutan, gajah, gajah stegodon, kuda nil, harimau, kura-kura dan fosil-fosil moluska.[4]
Di pulau ini juga terdapat ibu kota kabupaten di pesisir utara Jawa, seperti Jepara, Kudus, dan Pati.[
Rangkaian Gempa Bawean masih terus terjadi hingga Minggu malam ini, 31 Maret 2024. Rangkaian gempa dangkal akibat aktivitas sesar yang belum teridentifikasi itu berawal dari Jumat 22 Maret lalu lewat tiga gempa Magnitudo 5,9, M5,3, dan M6,5. Gempa terkini dari Laut Jawa, dekat Pulau Bawean, tersebut terjadi pada Minggu malam ini, pukul 20.09 WIB. BMKG mencatatnya berkekuatan Magnitudo 4,7 yang guncangannya bisa dirasakan di Bawean pada skala II-III MMI.

Komentar